WARUNG makan ini relatif sempit. Dapur masaknya berada di bagian depan. Jarak antara dapur dengan meja pelanggan nyaris menyatu. Bau sedap masakan mudah tercium olehnya.
Sungguhpun demikian, dapur, meja, kursi, dan wastafel ditata begitu rupa. Pelanggan masih bisa leluasa bergerak di warung lalapan spesialis geprek ini. Warung OmBoy namanya, lokasinya di samping Rumah Sakit "Mutiara Bunda, Kota Malang.
Warung ini menyediakan ruang lesehan mini. Dindingnya dihiasi motif bunga berwarna merah muda. Meski tak didesain oleh ahli interior, penampakannya cukup sedap dipandang mata.
Peluang mencoba usaha kuliner di Malang sangat terbuka, sekaligus penuh risiko. Alih-alih mendapat untung, sepi peminat justeru yang didapat. Namun keterbatasan ruang (lokasinya "nylempit" atau tersembunyi) bukanlah masalah utama bagi pengelola.

Pak Iwan, pengelola Warung OmBoy, spesia geprek|Dok. Pribadi
Bukan pula ketatnya persaingan usaha kuliner yang dipersoalkan. Si pengelola sepertinya tahu harus bagaimana menyiasatinya. Rupanya, dia menerapkan filosofi ala Jawa berikut ini.
"Di Malang, kalau rasanya enak, meskipun tempatnya 'nylempit', akan dicari orang", begitu ujar Pak Iwan, pengelola Warung OmBoy yang hijrah dari Probolinggo ke Malang.
Di zaman now, filosofi itu bukanlah hal baru. Masyarakat Jawa sudah lama mengenalnya di dunia kuliner. Prioritasnya adalah pada rasa, bukan pada tempatnya. Hal ini kontras dengan dunia property yang lebih mengutamakan lokasi, lokasi, dan lokasi.
Hal utama adalah mengenalkan rasa enak, baru disusul faktor lainnya, seperti lokasi, harga, promosi, dan layanan. Si pemilik percaya, "di manapun tempatnya, kalau makananannya enak, pasti pelanggan akan memburunya".
Menerapkan Filosofi Jawa
Budaya Jawa kaya akan kearifan lokal. Selain filosofi di atas, dikenal filosofi, "ora bathi sathak ora opo-opo, sing penting bathi sanak" (Tidak mendapatkan untung berupa uang tidaklah mengapa, asalkan mendapatkan untung berupa persaudaraan").
Filosofi itu menekankan pentingnya budaya harmoni sosial ala Jawa. Ada pula filosofi "mangan ora mangan sing penting ngumpul" (makan tidak makan, yang penting bisa berkumpul).
Entah seberapa efektif filosofi tersebut jika diterapkan dalam dunia usaha. Konon, orang Jepang justeru menerapkan filosofi semacam itu sebagai modal sosial.
Namun yang jelas, Warung OmBoy menggunakan filosofi pertama sebagai strategi pemasarannya. Bahwa "sing penting rasane enak" (yang penting rasanya enak), meski tempatnya "nylempit" (tersembunyi), orang Jawa percaya warungnya akan dicari pelanggan.
Hal yang sama diterapkan oleh Pak Iwan. Setelah berkeliling, ia menemukan tempat ini. Bekas Warung Mie Ramen ala Jepang itu kemudia ia sewa. Sejak 3 Desember 2017, ia membuka cabang Warung OmBoy ke empatnya di Malang. Sementara tiga lainnya, berada di Jember yang sudah berdiri sejak empat tahun lalu. Pusatnya berada di Jember.
Sementara pemilik usaha (owner) adalah kakaknya sendiri yang bernama Boys Bastian. Dari nama inilah, tercetuslah nama WarungOmBoy. Nama ini sekaligus dijadikan sebagai personal branding, supaya orang mudah mengingatnya.
Spesialis Lalapan Geprek
Pak Iwan, membuka warung spesialis Geprek sebagai andalanya. Geprek berarti penyet. Ayam atau bebek sebelum digoreng dipenyet dulu. Dipenyet secara tradisional menggunakan "ulek-ulek" supaya rasanya empuk.

Jam Buka Warung Spesialis Geprek (Warung OmBoy)|Dok. Pribadi
Pak Iwan bersama keluarganya membuka warung setiap Senin-Sabtu, mulai pukul 09.00-21.00 Wib. Sementara hari Minggu, tutup.
Ia mengandalkan cita rasa geprek, produk andalan lalapannya dengan bumbu sambal. Makanan lalapan identik dengan sambal, bukan?
Nah, untuk menjaga cita rasanya, sambal ini harus dikirim dari warung pusatnya (Jember). Bumbunya dikirim dari sana, di sini tinggal "ngulek", tutur Pak Iwan asal Probolinggo itu menerangkan.
Sambalnya bervariasi: ada sambal galak, bajak, dan geprek. Sambal galak sama dengan sambal bajak, hanya ditambahi bumbu dan digoreng. Sambal bajak identik dengan sambal terasi bercampur tomat yang digoreng. Sedangkan sambal geprek, adalah sambal bawang yang diolesi minyak goreng.
Pedasnya bervariasi dari level 1 hingga 10. Untuk pedas level 10 ke bawah, masih disisipi cabai hijau. Namun untuk level 10 ke atas, semuanya menggunakan cabe rawit merah, alias cabe super pedas.
Pak Iwan menceritakan, bahan bakunya berasal dari ayam kampung. Jika terpaksa menggunakan ayam potong, hanya dadanya saja yang diambil. Tersedia pula sajian lalapan bebek geprek. Setidaknya, sebanyak 40 potong bebek berbumbu dikirim seminggu sekali dari Jember.
Dalam sehari, Warung OmBoy mampu menjual sekitar 100 porsi. Kalau di Jember, sehari untuk satu warung bisa mencapai 300 porsi. Tiap porsi ayam geprek seharga Rp 15.000.
Jika order makanan lewat Go-Jek, harganya bisa 20% lebih tinggi dari harga semula. Itu atas permintaan si pengorder. Sebaiknya, pengunjung datang langsung jika menginginkan harga termurah.
Saya penyuka pedas dan lalapan sejak kecil. Maka saya pesan pedas level 6. Artinya, cabe rawitnya berjumlah 6 biji. Pengalaman merasakan seporsi ayam geprek di Warung OmBoy, rasanya memang mantap.
Mmm... pas di lidah, namun tidak sepedas yang saya kira sebelumnya. Rasa sambalnya khas. Proporsinya perpaduan antara pedas dan sedap, sehingga tidak menghilangkan rasa nikmat makanannya.

Kopdar bersama Bolang di Warung OmBoy|Dok. Pribadi
Itulah pengalaman saya berkunjung ke Warung OmBoy bersama rekan-rekan komunitas kompasianer Malang (Bolang) kala itu (27/04/2018).
Sembari mengenali filosofi Warung OmBoy dengan ayam geprekandalannya, bersyukur kami bisa menuntaskan rencana penerbitan buku "Pesona 17 Kampung Tematik di Kota Malang" bersama komunitas. Salam.